Patung Garuda Wisnu Kencana,  Landmark Kawasan Budaya

c8c526b1-b653-4223-b67d-2b7dc285a994

 

PropertiDesain.com – Kehadiran patung-patung berukuran raksasa pengisi ruang terbuka dan melengkapi ruang terbuka kota dalam satu dekade terakhir, menunjukan  fenomena kota yg makin berbudaya.  Patung-patung berukuran raksasa ini sebagai elemen penyeimbang antara pembangunan gedung dan ruang terbuka hijau.

Lihat saja Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) sebagai monumen baru di kawasan budaya Bali. Kehadiran patung berskala besar ini sebagai Landmark kawasan ditambah lagi dengan adanya pedestal monumen Garuda Wisnu Kencana ( GWK ), membuat kawasan ini menjadi indah dan unik serta  selalu mempesona.

Berkaitan dengan adanya karya patung patung berukuran raksasa tersebut Kenari Djaja dan Majalah Asrinesia, bekerja sama dengan Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI) menyelenggarakan seminar online berupa Garuda Wisnu Kencana, Landmark Kawasan Budaya, (14/10/2021).

Seminar online ini menampilkan nara sumber Dr. Ir. Danang Priatmodjo, M.Arch (Ahli Rancang Kota), Ir. Chiquita M. Pitono (Arsitek Profesiaonal), dan Dr (HC) Nyoman Nuarta (Seniman Pematung), dan Dr. Ir. Hadi Prabowo,MT (Ketua Umum Ikatan Ahli Rancng Kota Indonesia).

Dalam seminar ini, Dr. Ir. Hadi Prabowo, MT, Ketua Umum Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI) menyatakan, bangunan monumen berbentuk patung menjadikan wajah kota semakin menarik dan berbudaya yang membanggakan warganya. Karya patung-patung berukuran raksasa yang melengkapi ruang terbuka kota terasa fenomenal dalam satu dekade terakhir sebagai elemen penyeimbang antara pembangunan gedung dan ruang terbuka hijau.

“Vibrasi monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ditempatkan pada ruang terbuka di Pulau Bali tidak hanya menarik wisatawan, tapi juga para kolektor seni yang melihat replikanya sebagai obyek baru investasi yang memiliki peluang bisnis.

GWK yang indah desain dan kebesaran skalanya, dibangun secara harmoni dengan lingkungannya sebagai Landmark / tenger yang sangat populer di kawasan budaya Jimbaran,”  tutur Hadi Prabowo.

Sedangkan Danang Priatmodjo menuturkan, kehadiran patung-patung raksasa pengisi ruang terbuka dalam satu dekade terakhir, menunjukan  fenomena kota yang makin berbudaya. Selain itu, bagaimana ruang kota bisa menerima kehadiran sebuah monumen sebagai Landmark yang membanggakan. “Kehadiran elemen kota bukan visual semata, tetapi harus berdampak bagi kehidupan masyarakat dan lingkungannya,” tutur Danang.

Bangunan monumenpun harus serasi antar wujud arsitektur dengan fungsinya. Hal itu  disampaikan Arsitek Chiquita M. Pitoyo, IAI, dari konsultan Arkitekton Lima yang terlibat dalam merancang pedestal Garuda Wisnu Kencana.

Pembicara terakhir, seniman patung Nyoman Nuarta, yang keahliannya tidak diragukan membuat patung berskala besar dengan menggunakan tembaga (cooper) dan teknologi modern. Keahlian Nyoman    telah diakui Fakultas Senirupa ITB dengan menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan ini.

Di seminar ini Nyoman menceritakan awal mulanya berdirinya Patung Garuda Wisnu Kencana, sosok burung Garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dalam ukuran raksasa ini.  Kala menciptakan masterpiece-nya ini dan tampil sebagai Artscape di ruang terbuka, Nyoman sudah mempertimbangkan segalanya.

Pembahasan elemen kota ini dipandu oleh moderator Arsitek Lanskap Ir. Iwan Ismaun, MT dari Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) yang mengerti benar posisi sebuah Landmark pada ruang terbuka hijau. Iwan berharap peserta seminar  bisa mendapat pengalaman menerima kehadiran Landmark yang bernuansa budaya.

Seminar  dihadiri lebih dari 350 peserta, terdiri dari kalangan profesi Arsitek, Arsitek Perkotaan, Arsitek Lanskap, Seniman patung,  dan masyarakat umum.